Hah?
Kalau anda pernah membaca postingan tentang persahabatan sebelumnya, pasti anda akan mengernyitkan dahi tanda berpikir keras dan berkonsentrasi penuh sambil ngeden di WC. Petir awan nimbus manalagi yang menyambar gw sehingga merubah pendirian--dari manusia tanpa teman, menjadi orang yang bahagia karena menemukan teman? Bahkan Aladin sekalipun punya Abu si monyet sebagai sohibnya.
The truth is, from the bottom of my heart, glad that I've found them.
Walau gw cuma kenal mereka baru sebentar, efeknya menonjok cuy. Now I realized that I've been always had a lot of friends but it never came to my stubborn head, how I really need and valued them.
Baru-baru ini gw kenal sama 8 orang yang asik, anak kelas gw. Dengan niat mulia mengajak silaturahim ke rumah gw dan niat jahat nyetorin muka mereka di depan bonyok gw biar dikenal dan gampang kalau izin pergi bareng, jadilah manusia-manusia jahanam ini menginvasi rumah gw (minus Aji, Gabe & Daya, plus Ve)
The Case of The Ice Cube Miner
Dari kampus, kita semua stop di RS Harapan Kita dulu karena gw mau suntik. Suntik rabies, kata Fikri. Whatever. Abis itu langsung iring2an mobil ke rumah gw. Aah betapa lucunya anak-anak jahanam ini waktu ketemu bonyok gw, dari mode muka setan kecil langsung berubah mode ke muka bayi malaikat terimut yang pernah lo lihat. Tapi begitu disuruh makan, langsung kelihatan aslinya lagi. Bahkan Henna yang udah pasang kalem mode dari pertama menginjakkan kaki di rumah gw, kumat lagi gaya presenter lebaynya. Seram, sungguh seram. FYI, di tengah-tengah acara makan ini bokap gw nongol, memperkenalkan diri dan mengabsen anak-anak ini satu-satu. Itulah pak Dosen jadi-jadian.
Ketika semua sedang menghayati makanan masing-masing, ada satu orang yang menghilang entah ke mana. Bukan si Lima, yang sembunyi kayak curut di balik sofa (sumpah nyeremin, kagak kelihatan samasekali tu anak di balik sofa). Mana Fikri? Sodara-sodara, ternyata dia ada di toilet! Tapi sudah berapa lama? *mengecek jam* ada 15 menit kalee!
Sampai nyokap gw nyamperin dan bilang mau pergi, beliau menyadari ada 1 orang yang hilang.
Nyok: Fikri mana?
Bareng2: Di toilet, tante!
Nyok: Lah kok ga keluar-keluar dari tadi?
Do2L: Katanya lagi boker tuh.
Nyok: Digedor aja, jangan-jangan kekunci, ga bisa keluar?
Do2L: Yaelah Mak kayak gatau aja, emang Mak demen kalo lagi boker enak-enak digedor? Biarin ajaa! *sambil nyomot pizza lagi*
Dan tiba-tiba Fikri keluar dari toilet, berpeluh bagai dari sauna dan menampilkan wajah penuh kebahagiaan.
Do2L: *agak kecewa, jatah pizza lebihnya berkurang lagi*

(Sambil nonton tipi) Rafel: Eh liat deh, liat deh, bagus banget tuh! Fikri, lo lagi ngapain nampang di situ? *siaran bolang yang ada liputan orangutan atau sejenisnya*
Jadi, menu minuman pada kali ini adalah coca-cola. Nothing special. Yang special adalah es batu atau ice cube, bener-bener special alias LANGKA! Bukan karena ketidaktersediaan es batu di kulkas gw, tapi karena susahnya menambang es batu dari kulkas tersebut.
Menambang?
Betul! Istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Hal ini dikarenakan oleh es batu yang ngumpul kayak amoeba dan ga bisa dipisahkan, bagaimanapun caranya, melekat satu sama lain di kotak esnya. Sampai-sampai tercipta profesi baru akibat fenomena ini: Penambang Es! Cocok bagi mahasiswa fakultas hukum yang merasa tidak berbakat di bidang hukum dan ingin segera mencari pekerjaan yang berprospek tinggi, tidak kalah dengan alumni teknik pertambangan minyak dan batu bara.

Ketika manusia kehausan, mereka mencari air dingin. Ketika es sangat langka, manusia menjadi tidak sabaran. Hal ini dapat memicu terjadinya konflik antar lapisan sosial: antar penambang es, pemilik kulkas, dan peminta es.

Untungnya, profesi penambang es ini dengan cepat dikuasai oleh Fikri. Dengan metode seperti menusuk es dengan pegangan sendok, menggaruk es dengan sendok, menjampi-jampi es supaya cepat cair, atau dengan metode manual yang melibatkan keahlian tangan telanjang (tenang, dia sudah cebok sehabis dari toilet), peristiwa kelangkaan es ini dapat diatasi.
Dan akhirnya Rafel dan Fikri pulang duluan dengan membawa sebotol coca-cola 1 liter yang isinya tinggal seperempat untuk dihabiskan di jalan. Belum juga habis isinya, Rafel mulai meracau dengan logat Belitong ala Daya di depan rumah, bagai pahlawan carok yang kalah bertarung dan kehilangan seekor kerbau, entah apa yang dia komat-kamitkan. Perilakunya benar-benar mencemaskan, sepertinya karena pengaruh kebanyakan coca-cola, dia jadi mabuk, jalannya pun limbung. Begitu dia duduk di mobil, ia menenggak cola, lalu diam. Lalu meracau lagi dengan logat aneh tersebut. Astaga, lain kali gw kasih teh manis ajadeh kalau ke rumah gw!
Lebih mencemaskan lagi, Fikri nampak sedikit mabuk cola juga, terbukti dengan berkali-kali meneriakkan semboyan "Doakan aku ya!" sambil mengancungkan kepalan tangan, meniru acara Takeshi Castle, mau mundurin mobil tapi ga jadi-jadi terus, dan hampir nabrak mobil tetangga di belakangnya.
Hal tersebut menginspirasi gw untuk memotret mereka. Hasilnya sih jelek karena WBnya ketinggian, tapi gw edit lagi dan gw jadiin poster kampanye Safe Ride, anti mabuk ketika menyetir. ZZZZZ.
Great weekend.
What do we learn: Menyadari bahwa teman ada selalu di dekat kita bukan hal yang gampang buat semua orang. Despite of my arogancy of need of friends, akhirnya gw menerima apa yang ada di depan gw: orang-orang asing yang baru aja hadir di hidup gw--yang gw harap akan tetap ada sampai entah kapan. Karena se-serigala apapun kita, kita tetap bergantung pada kawanan kita sekali-sekali. Baik yang kenal dekat maupun baru tahu namanya 5 menit yang lalu. Lebih baik terlambat menyadari daripada nggak samasekali. Tim Inti Isi Manusia: Nunu, Henna, Lima, Daya, Fikri, Rafel, Gabe, Aji--nice to know you all. And old buddies: Rejonk, Dionne, Amin, Ai, former Junior High School friends--Now I realized, I've wasted my time just pitying myself for nothing; I've learned a lot from you guys, and nothing is more precious than having you in my life memories.
Friends may come & go, but true friends remain forever. How true are your friends? I don't need my friends to be so-true, because there's no such vision as perfect friends. The only thing I know is people, that may not be 24/7 by your side but willing to spend 1 minute to listen to your sorrow. That IS my kind of true friend.
Labels: a tall building called University and life on it, Aliens, Daily Whatever, ME in STUPIDITY









