PeNtatonic coffee

If you can't strike the right note, you can't brew life melodies like fresh frappe!

Law Student who loves blogging, photography, and graphic designing--even though none of them are related to my future desired occupation. FYI - I have Jonas Brothers on my playlist beside of Avenged Sevenfold.
Facebook me here

profile Posts friends say sumthin here Archives
Comotan dari NgupingJakarta
09 November, 2009 / 2:16 AM
Jadi gw memilih 5 postingan yang bikin pembacanya pengen langsung matiin internet connection & sembunyi di dalam rumah selamanya supaya ga berinteraksi dengan orang-orang di luar sana daripada kena risiko mendengar hal-hal seperti ini:

Mesinnya buat ngegoreng...

Cowok: "Pak, gerobaknya rusak?"
Tukang Nasi Goreng: "Nggak, ini baru kok, pak..."
Cowok: "Kok didorong?"

Didengar oleh dua teman yang ingin mendorong cowok itu ke jurang terdekat.

Bukkake 101...

Guru biologi: "Nah, selain kondom dan spiral, ada lagi nih kontrasepsi alami; namanya coitus interuptus."
Siswa: "Apa tuh, pak?"
Guru biologi: "Jadi waktu mau keluar, penis diangkat jadi tidak mengeluarkan sperma di dalam vagina."
Siswa: "Terus ngeluarinnya dimana, pak?"
Guru Biologi: "Kata anak kelas lain sih, di muka..."

SMA di Jakarta, didengar oleh seluruh murid yang merasa menonton porno sudah menjadi kurikulum.

Jawaban yang tepat sih...

Dua orang perempuan yang sedang ngobrol di dalam mobil.
Perempuan #1: "Eh, bentar gw angkat telepon dulu ya, nanti kita lanjutin lagi."
Perempuan #2: "oke."
Perempuan #1, beberapa menit kemudian: "Jadi, sampai dimana kita?"
Supir: "Terogong."

Terogong, didengar oleh kedua penumpang yang jadi lupa topik pembicaraan sebelumnya.

T-O-L-O-L... nah itu pas!

Cewek: (Main TTS)"Yang, pengampunan hukuman apa?"
Cowok: "Amnesti"
Cewek: "Cuma lima kotak kok..."
Cowok: "Kalau gitu nulisnya kecil-kecil aja..."

Didengar oleh teman yang langsung percaya hukuman mati.

Terlalu sopan mbaknya...

Sambil menunggu sampai tempat tujuan di dalam angkot.Seorang perempuan melamun.Tiba-tiba ia teriak.
Penumpang: "Assalamualaikum, Bang!! Assalamualaikuuumm!!"
Supir angkot: "Waalaikumsalam, Mbak! (setengah kaget)"
Penumpang: "..."
Supir angkot: "..."
Penumpang: "Maksut saya kiri, Bang.."
Supir angkot: "..."

Angkot jurusan Slipi Jaya, didengar oleh penumpang-penumpang yang lain sambil meringis menahan tawa.

Labels:



Yang bikin "hahaha zzz" habis nangis
31 October, 2009 / 4:02 AM
Entah dia ini berusaha menghibur dengan ngelawak atau memang minta di "zzz" in... Setidaknya dia memberi penghiburan pada hati yang keruh ini. Sekeruh Kali Ciliwung.

Gimana kabarnya?
Jelek, hahaha.
Oh di sini mah selalu cakep!
zzz

*****

Kepalanya nyut-nyut an nih, belom tidur
Yah kalo bisa mah disamperin ke sana, dipijitin
Iya ya, jauh sih...satunya di Kemanggisan, satunya di New York (baca: yang ngomong posisinya di Kebayoran Lama)
zzz

*****

Kamu udah makan belom?
Belom...
Makan dong, tadi aja saya makan indomie rebus (terus kenapa kalo indomie rebus?)
zzz

*****

Gimana ujiannya?
Baru ada lagi nanti senin.
Belajar dong biar IP nya 4!
Iya belajar...
Iya, biar IP nya 14!
zzz

*****

Kamu sakit?
(diam, menarik ingus, menangis pelan)
Hei...
Ngga kok (sengau-segau srot-srot)
Kamu flu ya?
Ngga...hahaha... (air mata makin tumpah kayak bak mandi kepenuhan)
Ah, kamu sakit kulit kali!
HE? Emang sakit panu apa...ada-ada aja...!
Iya, suara kamu kayak gitu, pasti sakit kadas, kurap, kutu air.
Apa hubungannya suara sama sakit kulit???
Ha, iya ya? Apa hubungannya suara sama sakit kulit ya?
zzz

*****


Credit to this wicked guy:



Si pendosanya hikhikhik!

♥ you.

Labels: , ,



Kerasnya Hidup Ini (Udah tahu dari dulu sih)
30 October, 2009 / 10:01 PM
Beberapa waktu yang lalu, saya mengupload video saya sedang main gitar sambil menyanyikan lagu "You've Got a Friend" di Facebook. Entah kenapa dorongan hati begitu kuat untuk mengekspresikan rasa sayang (latihan jadi seleb juga sih, CIH!) kepada teman-teman, teman baru, teman lama, teman baik, semuanya--saya sayang kalian semua!


Ayo abis ini kita kareokean ke mana? :hammer:

Hari ini saya membuat kesalahan bodoh yang mengakibatkan saya disemprot habis oleh bokap, dikatai anak kurang ajar, dst dst. Awalnya, saya disindir tentang suatu hal secara bercanda oleh bokap, karena saya sedang sensi dan lelah, saya tidak menggubris waktu bokap biacara kepada saya. Memang itu semua kesalahan saya, dan sebagai orang waras, saya meminta maaf kepada bokap. Suatu hal yang jarang sya lakukan karena ego saya yang terlalu tinggi.

Maafin aku pi, aku tadi capek, maaf pi...
(suara sengau tarik ingus cih)

Kamu tahu, papi capek besok mau presentasi depan dewan Gubernur, masakin kamu, nglayanin kamu--kamu pikir kamu tuan besar ya? Ga ada itu alasan capek! Kurang ajar kamu, betul-betul kurang ajar!

Maaf, aku ngga bisa seperti itu...
(ngga bisa menepikan capek/lelah/banyak pikiran sebagai alasan)

Kamu galau, heh? Jangan bawa kegalauan kamu ke dalam rumah!

Saya terdiam seketika.
Saya terima semua amukan itu--namun saya benar-benar terpukul dengan kata-kata terakhir di atas. Jika saya tidak boleh membawa kegalauan saya ke dalam rumah, kepada siapa lagi saya harus mengadu? Bukankah mereka mengatakan saya harus bercerita kalau terjadi apa-apa/ada masalah?

Saya lelah, amat lelah.
Dulu hidup saya lebih berat daripada ini. Tidak ada yang tahu kan, bagaimana seorang anak kecil, umur 14 tahun menanggung beban hidup bagai sekarung belati--yang lucunya tidak dia pakai untuk bunuh diri saja sekalian--padahal situasinya sangat mendukung. Percuma juga kalau saya ceritakan hal itu kepada kalian, wahai orangtuaku, karena dulu kalian terlalu sibuk mencaci maki satu sama lain dan terlalu naif, buta, untuk mengakui bahwa anak kalian juga bisa punya masalah selayaknya masalah orang dewasa.

Saya telan semua sakit dan muntahan itu sendiri.
Saya tidak pernah mengeluh seperti cewek lenje. Masalah saya lebih berat dari sekadar nilai merah di rapor atau ditolak mentah-mentah orang yang saya suka. Saya ketika berumur 14 tahun punya masalah yang menyangkut hidup-mati. Yang membuat saya meneteskan air mata tiap kali bangun pagi dan turun menyentuh lantai--selama hampir 3 tahun--sebelum saya mengakhiri kegilaan itu dengan membuka lembaran baru dalam hidup dan berusaha memperbaiki diri.

Dan akhir-akhir ini, kenangan masa lalu yang pahit najis itu sering menyergap saya.
Sekarang saya sering berpikir, apakah semua perbuatan baik yang saya lakukan, semua upaya saya untuk memperbaiki masa lalu saya yang sampah, mencoba terlihat sebagai orang yang sempurna, bisa menutupi atau menebus kesalahan saya di masa lalu? Apakah saya sudah berubah sedemikian rupa baiknya sehingga orangtua saya melihat saya sebagai manusia superior yang tidak boleh mengalami human error?

Tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan di depan mata orangtua saya, terutama bokap.

Lalu bagaimana dengan adik saya yang lebih lemah dan cengeng, kenapa banyak sekali toleransi yang diberikan kepada dia? Saya merasa sangat dibedakan!

Saya tahu kalau bokap marah semua kata-kata orang gila bisa keluar. Masalahnya saya menganggap semua itu serius dan dimasukkan ke dalam hati. Penyakit orang perfeksionis.

Yang saya tahu, mulai sekarang, saya tidak akan memperlihatkan kesedihan di depan orang tua saya--kecuali saya ingin cari penyakit.

Tadi saya menelepon teman untuk menanyakan bahan ujian, dengan suara sengau dan masih menarik ingus. Kontan, dia pun terkejut dan menyanyikan reff dari lagu "You've Got a friend" yang saya upload sebelumnya.

Kamu udah nyanyiin itu buat aku, sekarang aku yang nyanyiin buat kamu. You've got a friend, right?

Sentimental breakdown, gue langsung nangis kejer. Saya ulangi, kejer. Taik. Hahahah.

Dan hal yang menghibur juga saya temui ketika menelepon dia. Dengan harapan bisa mencari ketenangan dengan mendengar suaranya setelah hampir tidak ada kabar selama 2 hari, atau berharap dia bisa memberikan saran sebagaimana orang bijak pada umumnya. Saya tidak percaya kalau dia tidak tahu apa yang terjadi dengan saya, karena dia tahu apa yang saya lakukan selama 24 jam, oh dasar dukun--namun apapun yang dia katakan tadi benar-benar menyejukkan hati. Mungkin dia juga tidak bermaksud mengibur, tapi biarlah.

Setidaknya saya masih bisa tersenyum dan bangkit lagi.

Masih banyak orang lain yang punya masalah lebih berat. Saya tidak boleh menyerah dan mati tenggelam dalam kubangan ingus seperti ini.

:)

Labels: , , , ,



KTT
26 October, 2009 / 10:21 PM
Tentunya kalian semua sudah familiar dengan KTT yang merupakan singkatan dari Konferensi Tingkat Tinggi....namun kali ini berbeda, KTT yang dimaksud adalah Khayalan Tingkat Tinggi

Berkhayal...seandainya yang terjadi di bawah ini menjadi nyata...



Namun apa boleh buat, yang ada sepertinya malah kebalikan. Zzz.

*****

Terus jadi teringat waktu itu dia bertanya-tanya soal main ice skating...mau main tapi takut jatoh. Di mana sense of adventure anda? Yihaaaa!



Kalo gue yang jatoh gawat, es retak semua, gara-gara keberatan dosa :hammer:

*****

Ah ini sekedar mengingatkan akan hobi lama dia...nge-RAP! Yes RAP! Macam Eminem atau Iwa K. Astaga!



*****

Dan khayalan yang paling mengerikan...



FOTO CATATAN SIPIL *NGAREP BERAT MODE ON*

Aaaa ada apa gerangan, makin lama makin sinting! (Memang sudah dari kemarin)

Dari kemarin dia berbicara lewat lagu-lagu.
Hari ini dia meninggalkan saya ngorok di telepon pada jam 6 pagi. Benar-benar dalam arti harafiah, suara ngoroknya kedengeran di telepon!
Sore harinya dia juga bicara lewat lagu tapi saya terlalu pecicilan dan tidak peka untuk menangkap kalau-kalau ada maksud tersembunyi.

Hari ini dia terlihat...bahagia.

Dan saya turut bahagia jika melihat orang yang disayang berbahagia. Walau saya tak tahu sebabnya. (Jangan-jangan mau kawin? Zzz ngimpi ajalo)

Mumpung lagi hepi bolehlah diumbar...nanti kalau udah masuk bagian nangis-nangis, bete juga kan lo pada? Haha.

Labels: , ,



Sindiran Bagi Asisten Yang Hobi Ngocehin Atasannya
24 October, 2009 / 12:40 PM
Damai. Peace.

Suatu kata yang adem buat didengar namun implementasinya sesukar mencabuti rumput teki hanya dengan kedua tangan di lapangan seluas 500ha--terutama bagi gw. Menjadi orang yang emosional dan meledak-ledak sungguh memberikan keuntungan dan kerugian sendiri.

Dengan emosi yang tinggi, gw bisa merasakan perasaan orang lain, menempatkan diri gw di sudut pandang orang lain. Mengikatkan diri dengan orang lain secara batin (baca: persahabatan) dan mensupport mereka di kala suka dan duka (lo kata orang kawin, suka-duka)

Namun dengan hal yang sama, ketika gw menemui hal-hal yang tidak sesuai kehendak, seakan kesambit setan alas (alas sepatu, alas sendal) gw akan marah. Meledak. DUAR. Akibat dari pribadi saya yang terlalu idealistik dan perfeksionis, saya sering dipandang lebai dan dianalisis bisa kena penyakit jantung di usia dini.

Tapi saya punya nota eksepsi di sini, Majelis Hakim!
Gw marah demi kebaikan orang lain. Supaya mereka merubah kelakuan yang negatif menjadi lebih baik & bisa diterima (oleh gw, zzz).

Masalahnya, menasehati orang lain kan ngga harus dengan marah-marah?
Betul itu, namun yang gw hadapi adalah perilaku yang sudah berkerak dari orok dan tak bisa dirubah. Objeknya adalah seseorang dengan kelakuan dan pemikiran yang berbeda dengan gw. Sudah berulangkali gw berusaha memahami dan menoleransi namun tetap tidak ada perubahan.

To make it worse, he's my boss.

Bawahan mana yang berani-beraninya memarahi dan menyindir boss nya dengan kata-kata maknyus setiap kali bersua maupun berbicara di telepon? Dasar asisten kurang ajar!

Noooo....coba lihat dari sisi lain. Karena gw peduli dengan dia, dan memang dia sendiri mengakui bahwa kelemahannya adalah mengatur dirinya sendiri, maka gw melontarkan banyak protes dan sindiran. Andaikan gelar MM itu bisa dihibah, mending dihibah ke gw!

Dan hari ini terjadi percakapan di telepon sebagai berikut:

A (asisten): Udah ya kita jangan berantem lagi, capek tau.
B (boss): Saya mah ga pernah berantem, damai terus.
A: Tapi kelakuan boss kadang-kadang suka bikin saya marah...eh salah, sering malah!"
B: Oh gitu ya?
A: HMMMH.

--tiba-tiba dia menyetel MP3--

"Hidupku kan damaikan hatimu...."

B: Tuh makanya, damai lah.
A: Ya tapi kelakuan boss tuh harus membuat DAMAI di antara kita
B: Belom juga lagunya "Perdamaian, perdamaian"
A: HUUUH!

B: Apa artinya damai, coba?
A: Menurut boss? (asisten yang kurang ajar, malah nanya balik)
B: Yah justru kan saya tanya kamu.
A: Damai...ketika 2 orang mencapai kata sepakat dalam menyelesaikan masalah mereka. (jawaban klasik lawyer)


Jadi mikir lagi. Apa memang segitunya gw kalau marah-marah?
Marah-marah gw emang nyeremin....tapi kan demi kebaikan semua...
Memang setiap orang mempunyai pribadi yang berbeda-beda dan gw harus belajar lebih sinting lagi untuk memahami dia. Walaupun kata orang-orang gw sudah terlalu banyak berkorban dan berjuang.

Mungkin gw harus ikut kursus anger management supaya tembok-tembok itu ngga retak, jadi korban pelampiasan lagi. Kasihan.

Labels: , , , ,